Usia 20-an Memasuki Quarter Life Crisis, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Usia 20-an Memasuki Quarter Life Crisis, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Apakah kamu sedang pada masa transisi dari remaja menuju dewasa? Memasuki usia-20an ternyata banyak hal baru yang mulai dihadapi. Mulai dari pendidikan, karier, sosial, dan tanggung jawab individu lainnya.
Fase ini akrab disebut sebagai quarter life crisis. Umumnya, pada fase ini seseorang akan mengalami gejolak dan pertimbangan dalam membuat keputusan.

Karena quarter life crisis dialami hampir semua orang, berarti fase ini adalah hal normal dan individu tidak perlu merasa khawatir. Mereka hanya harus memikirkan dan belajar bagaimana cara melewatinya dengan tepat agar tidak menimbulkan stres berlebih dan depresi.

Apa itu Quarter Life Crisis?

Psikolog Klinis Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Azri Agustin, M.Psi., Psi, menjelaskan Quarter Life merupakan usia pada masa paruh baya yaitu 18-30 tahun.

“Pada masa transisi ini juga ada tugas perkembangan misalnya mulai mandiri, ada tugas untuk mengembangkan karier seperti dimulai dengan memilih pendidikan, menyelesaikan, dan memilih karier untuk ditekuni,” ujar Azri dikutip dari laman UGM, Jumat (3/6/2022).

Selain itu, hal paling umum juga karena adanya tuntutan dari lingkungan untuk mulai menemukan pasangan, membentuk keluarga dan diharapkan bisa mapan secara finansial

Perubahan quarter life menjadi quarter life crisis bisa terjadi kalau ada ketimpangan antara tuntutan tugas perkembangan pada masa transisi dengan kemampuan kita untuk mengatasinya.

Ciri-ciri Quarter Life Crisis

Azri mengatakan setidaknya ada beberapa ciri seseorang memiliki quarter life crisis, yakni:

1. Munculnya keraguan dengan kemampuan diri sendiri seperti bertanya “Apakah aku bisa, jangan-jangan aku gagal”.

2. Tidak termotivasi dan mulai ada kekhawatiran atau cemas terhadap masa depan.

3. Mulai kecewa dengan pencapaian yang sudah didapat.

4. Mulai mempertanyakan tujuan hidup seperti untuk apa aku hidup dan untuk apa aku dihadirkan di dunia ini.

“Kalau krisis ini terus-terusan tidak tertangani maka akan menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih berat misal cemas atau anxiety, terlalu khawatir, dan takut. Jika kita menilai diri sendiri tidak memiliki kemampuan, tidak berharga, maka ini akan menjadi indikasi bahwa orang mempunyai depresi,” papar Azri.

Apabila seseorang yang sudah berada di tahap anxiety/cemas akan khawatir terhadap hal-hal yang dianggap menjadi sumber ancaman, akan terjadi ketegangan motorik (merasa tegang, tidak nyaman, gelisah, detak jantung meningkat), kewaspadaan yang meningkat dan penurunan konsentrasi.

Sedangkan depresi ditandai dengan tiga gejala utama yaitu murung/sedih berlebihan, hilang minat dan mudah Lelah.

“Gejala ini menetap, setiap hari ada, bangun tidur sudah merasa lelah, merasa sedih terus bahkan menangis, lalu tidak minat untuk makan, belanja, beraktivitas dan jika gelaja ini menetap sampai 2 minggu bisa dikatakan sebagai depresi,” ujarnya.

Cara Mengatasi Quarter Life Crisis

Karena quarter life crisis merupakan hal yang lumrah, maka untuk mengatasinya Azri dan dosen Ilmu Kedokteran Jiwa FK KMK UGM, dr. Ronny Tri Wirasto, Sp. KJ memberikan tips, di antaranya:

1. Fokus dan bentuklah komunikasi

Bentuk komunikasi antara harapan, kendala dengan orang di sekitar. Karena obat terbaik adalah obat yang tersedia

2. Optimalkan hubungan dengan orang terdekat

Penting untuk mendekatkan hubungan dengan orang tua, teman, dosen, dan orang-orang yang bisa diakses untuk memetakan, memberikan fakta objektif tentang dirimu.

3. Jangan ragu untuk membantu bantuan psikolog atau profesional

Untuk menguraikan pikiran, tidak perlu menunggu masalahnya menjadi rumit untuk mendatangi psikolog.

Baca juga: Astronomi ITB Jadi Jurusan Langka di Indonesia, Seperti Apa Prospek Kerjanya?

4. Prioritaskan hal-hal yang besar terlebih dahulu

Misal keluarga, teman, dan sebagainya.

5. Selektif untuk menghilangkan hal yang kurang penting

Jangan biarkan kita mengisi hidup kita dengan sesuatu yang tidak penting dan tidak terikat dengan kehidupan, jika mengisinya dengan hal-hal yang tidak penting maka kita akan kehilangan arti kehidupan itu sendiri.

Terakhir, untuk bisa mengatasi fase quarter life crisis, setiap individu harus terus membangun kesadaran bahwa fase ini hanya harus dilewati dan dihadapi. Jadi, fokuslah dengan apa yang bisa dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Tulisan ini dipublikasikan di Pendidikan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.